ARAB SAUDI DAN ISLAM MODERAT?

ARAB SAUDI DAN ISLAM MODERAT?
Oleh Ihsan Ali-Fauzi*

BRAVO!  Mari kita sambut dan dukung niat pemerintah Arab Saudi untuk bekerjasama dengan kita, dalam menumbuhkan pemikiran Islam moderat di tanahair.  Niat itu disampaikan salah satu pejabat tingginya pekan lalu, setelah bertemu Presiden SBY di Jakarta, didampingi Menag kita.

Ini langkah baru.  Sebelumnya, tak pernah kita dengar mereka bermaksud demikian.  Yang kita tahu, mereka sudah lama giat menyebarkan Wahhabisme ke seluruh dunia.  Wahhabisme adalah doktrin resmi Kerajaan Arab Saudi.  Paham ini dikenal ekstrem dan puritan, menekankan kemurnian Islam Arab dan mengecam pencampurannya dengan tradisi lokal.  Filsafat dan tasawuf, misalnya, dianggap haram, karena keduanya dipandang barang impor dari Yunani, Persia dan Turki.  Para pemimpin Wahhabi juga mengklaim, merekalah penerus generasi awal Nabi Muhammad (ahl al-salaf) yang paling otentik, sedang yang lainnya tidak dan layak dibungkam, jika perlu dengan kekerasan.  (Sekadar diingat: NU dibentuk antara lain untuk menghambat ekspansi paham ini di Indonesia.)

Karena watak Wahhabisme itu, banyak orang skeptis dengan niat pemerintah Arab Saudi mengembangkan Islam moderat.  Tanya mereka: Bukankah inti moderasi adalah kesiapan untuk memahami dan menerima yang lain, yang bertentangan dengan semangat utama Wahhabisme?

Ya, ada unsur kebenaran di balik pertanyaan itu.  Namun, dalam kerangka kerjasama, ini mungkin titik-tolak yang kurang strategis.  Pertanyaannya, saya kira, bukan bisa atau tidak bisa.  Tapi bagaimana membuatnya bisa, berjalan seefektif dan dengan hasil semaksimal mungkin.  Kerangka kita janganlah yes or no, tetapi how.  Saya bertolak dari sikap itu, dengan beberapa usulan konkret.

Kucuran Dana, Ekspansi Pengaruh

Sebelum masuk ke langkah-langkah lebih rinci, pertama-tama harus diakui bahwa keinginan di atas tentu terkait dengan dana bantuan luar negeri dan perluasan pengaruh.  Ini lumrah dalam semua hubungan antarnegara.  Tak ada bantuan gratis, dalam jangka pendek atau panjang.  No free lunch!

Secara prinsip, keinginan itu tidak boleh dihambat pihak mana pun.  Sebagaimana kita terima bantuan untuk pembangunan atau lainnya, dari beragam pemerintah asing, dana bantuan dari Arab Saudi juga harus dibolehkan masuk.  Kalau dari AS dan Iran boleh, mengapa dari Saudi tidak?

Selain itu, dana Saudi juga terbukti amat bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan domestik.  Selama ini, banyak lembaga pendidikan dan dakwah di tanahair, yang kurang dibantu pemerintahan kita sendiri, mengandalkan dana dari Timur Tengah untuk bertahan hidup.  Banyak pula pelajar dan mahasiswa kita yang memperoleh beasiswa dan belajar di negara-negara Timur Tengah.

Soalnya menjadi lain jika dana itu digunakan untuk mengembangkan pemikiran dan aksi-aksi yang pada akhirnya bisa mengancam keamanan dan ketertiban negara.  Sejak peristiwa 11 September 2001, Arab Saudi memang gencar dituduh sebagai pihak yang turut mendanai pengembangan pemikiran Islam radikal yang antara lain bisa berujung pada aksi-aksi teroris.  Seperti dikemukakan Millard Burr dan Robert Collins dalam Alms for Jihad (2006), tuduhan paling gencar justru datang dari AS, sekutu terdekat Arab Saudi.  Dalam pernyataan persnya (19 Februari 2004), Departemen Keuangan AS mengatakan, beberapa lembaga penyalur dana Saudi “tidak saja telah membantu tersebarnya kematian manusia dan kerusakan, tetapi juga telah mengelabui banyak orang untuk percaya bahwa mereka sedang menyebarkan kebaikan” (dikutip Burr dan Collins, 2006: 204).

Tapi ini masalah kompleks dan kita harus menyikapinya dengan hati-hati.  Pertama, penerima dana Saudi bukan hanya Muslim radikal.  Muslim radikal pun bukan kelompok monolitik.  Mereka terbagi ke dalam kelompok yang membolehkan aksi-aksi kekerasan dan yang tidak.  Mereka juga terpecah ke dalam kelompok yang mendukung aksi-aksi teroris dan yang mengecamnya.  Kedua, menisbatkan aksi-aksi kekerasan di Indonesia hanya kepada faktor-faktor eksternal, seperti dana Saudi, juga tidak adil.   Radikalisme Islam memiliki benih dan preseden dalam sejarah kita.

Pendeknya, kritik atas dana Saudi tidak bisa main hantam.  Salah-salah, kita malah akan dianggap menerapkan standar ganda: dana dari negeri asing lain, diperbolehkan; tapi dari negeri-negeri Muslim Timur Tengah, dilarang atau dihambat.  Bahaya lainnya: tersumbatnya dana Timur Tengah akan mempersulit lembaga-lembaga pendidikan dan dakwah Islam lokal untuk terus hidup, membuka kemungkinan lebih banyak orang menganggur, dan seterusnya.  Ujungnya, ini akan memperkuat teori konspirasi, bahwa kita memang rentan terhadap tekanan “Barat” yang mau menghambat kemajuan Islam.  Bukankah ini hanya mempersubur lahan radikalisme Islam?

“Menjinakkan” Wahhabisme

Di sini menarik menyimak bagaimana pemeritah Saudi bereaksi terhadap tuduhan bahwa mereka mendukung Islam radikal, bahkan teroris.  Pada 8 November 2002, ketika tuduhan meluncur deras, Pangeran Salman bin Abd al-Aziz, Gubernur Riyadh, berkata: “Ketika seseorang memberi zakat kepada seorang miskin, ia tidak dapat mengajukan syarat-syarat tentang bagaimana si miskin itu akan memanfaatkan dananya.  Jika dana itu digunakan untuk melakukan aksi-aksi kejahatan tertentu, maka hal itu bukanlah tanggung jawab si pemberi dana” (dikutip Burr and Collins, 2006: 26).

Ada kesan lepas tangan di sini.  Bagaimana jalan tengah bisa dicapai?  Yakni agar dana tetap tersalurkan, tetapi bahaya dana itu jatuh ke tangan kelompok yang salah bisa dihindari?

Sedikitnya dua strategi bisa ditempuh.  Pertama, kita perlu menegaskan kepada pemerintah Saudi agar mereka transparan dalam menyalurkan dana.  Hal ini juga harus dimintakan kepada lembaga-lembaga donor Saudi yang bukan pemerintah – dan di sini kerjasama pemerintah Saudi mutlak diperlukan.  Dengan begitu kita mengetahui kepada siapa dana itu disalurkan dan untuk apa.

Salah satu cara untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menuntut agar transparansi juga menjadi kebijakan lembaga-lembaga donor Kristen, atau agama lainnya, dari luar negeri.  Ini sering menjadi alasan donor Muslim untuk tidak mau bersikap transparan, diam-diam atau terbuka.

Strategi kedua adalah dengan “menjinakkan” ekspansi Wahhabisme.  Kita harus mendudukkan perkara ini, karena Wahhabisme bagaimanapun adalah doktrin resmi Kerajaan Arab Saudi, yang pasti akan didesakkan kepada kita.  Caranya, antara lain, dengan melibatkan mereka di dalam berbagai kegiatan dialog antariman, terbuka atau tertutup.  Kegiatan ini tak kalah pentingnya dibanding dialog ataragama.  Karena, seperti makin kita ketahui belakangan ini, kekerasan sektarian terjadi bukan hanya di antara pemeluk agama yang berbeda, tetapi juga di antara pemeluk agama yang sama.  Kekerasan Syiah melawan Sunni di Irak adalah contoh terakhir yang memilukan.
Maka mari kita desak agar para pemimpin Muslim kita, dan pemerintah, menarik kantong-kantong Wahhabisme di Indonesia untuk keluar dari kepompongnya.  Mereka harus dibenturkan ke tembok peradaban abad ke-21, dengan meyakinkan mereka bahwa pilihan masa depan mereka adalah menjadi seperti Taliban atau bersikap lebih terbuka terhadap dan menerima perbedaan.

Percaya Diri

Kunci keberhasilan strategi di atas adalah jika kita, khususnya pemerintah dan pemimpin Muslim, punya rasa percaya diri yang cukup dan siap mendesakkan agenda-agenda di atas.  Dan kita punya sumberdaya yang cukup untuk itu.  Kesempatan pun ada di pihak kita.

Ingat: di mata dunia, setelah peristiwa 11 September 2001, di mana 15 dari 19 teroris yang terlibat adalah warganegara Arab Saudi, kerajaan itu sedang sempoyongan dan sedang memperbaiki citra.  Mereka antara lain menutup beberapa lembaga penyalur dana mereka di dunia.  Dengan begitu, mereka sebenarnya sudah mengakui, setidaknya sebagian, tuduhan bahwa mereka ikut mengembangkan paham Islam radikal yang mungkin menumbuhkan terorisme – secara langsung atau tidak; disengaja atau tidak.  Inilah yang memecut mereka untuk memperbaiki citra.  Terbitnya niat yang disampaikan di depan Presdien SBY adalah bagian dari proyek memperbaiki citra ini.

Dibanding Arab Saudi, citra Indonesia jauh lebih baik.  Sudah lama kita dikenal sebagai negeri Muslim moderat, dengan jumlah Muslim terbesar di dunia.  Kita juga negara yang tengah mengonsolidasikan demokrasi, yang keberhasilannya bisa menjadi contoh cocoknya perpaduan demokrasi dan Islam.  Ketika keharuman Islam belakangan ini dirusak segelintir pengikutnya yang memperjuangkan kepentingan mereka dengan aksi-aksi kekerasan, mata dunia tertuju ke kita, untuk mengembalikan keharuman itu.  Ini mungkin beban terlalu berat untuk kita pikul, tetapi jelas ia memberi kesempatan dan sumberdaya kepada kita untuk mendesakkan agenda-agenda kita di dunia, termasuk dalam kerjasama kita dengan pemerintah Arab Saudi.

Siapa pun boleh bersikap skeptis terhadap niat pemerintah Saudi mengembangkan Islam moderat.  Tetapi skeptisme saja akan kurang membantu.  Akan lebih produktif jika kita menerapkan beberapa strategi yang bisa mengurangi skeptisme kita, sambil mendesakkan kepentingan dan agenda kita sendiri.

*Ihsan Ali-Fauzi adalah seorang staf Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta.

Post a Comment

2 Comments

  1. assalamualaikum
    ini kunjungan kesekian kali ke blog sahabat :)
    dan menyimak terus update postingan yang semakin menarik
    sekaligus memberi info bahwa kangmusa telah membuat ebook baru
    "Blog Monetization Options" yang bisa diunduh disini
    terima kasih, saya tunggu kunjungan Anda di kangmusa.com
    salam hangat
    kangmusa

    ReplyDelete
  2. Di Indonesia harus dibedakan 2 macam Islam utama yaitu 1.Wahabi tulen = 100 % kadar wahabinya dan 2. Wahabi kadar 50 % yaitu Islam Indonesia / islam moderat.Dua 2 nya sama2 menggerogoti Nasionalisme Indonesia Jadi dua2nya harus diwaspadai terhadap kelangsungan negara kesatuan Indonesia berdasar Pancasila . Terimakasih.Hari Suwarno 6 Maret 2012. Salah2 bukan Wahabi yg dijinakkan tapi NKRI jadi WASPADALAH!

    ReplyDelete