Profil Pesantren Salafiyyah Darurrohmah



1. Sejarah

Nama Pondok Pesantren Salafiyyah Darurrohmah dikenal sejak tahun 1989, yang sebelumnya dari tahun 1975 dikenal dengan nama pondok pesantren As-Sa’diyah, yaitu diambil dari nama isteri pendiri pondok pesantren yang bernama  Nyai H. Sa’diyah, karena pada waktu itu hanya menerima santri putri. Sedangkan untuk pondok pesantren putra bernama pondok pesantren Al-Anwar, yaitu diambil dari nama pendiri pondok pesantren yaitu K. H. Anwar.

Sesuai penjelasan Kyai Fathurrahim, tahun berdiri pesantren tepatnya Rabu, 9 syawal 1393 H / 4 November 1973 M.

2. Perkembangan

Pondok pesantren Salafiyyah Darurrohmah, pada mulanya hanya terdiri dari sebuah rumah kiai berukuran besar yaitu 28X19 m. Setelah terdengar tentang kiai yang mengajarkan agama Islam, maka berdatanganlah masyarakat sekitar untuk berguru dan mengaji.

Orientasi pendidikan semula masih merupakan pengajaran Al-Quran dan pengenalan tentang ajaran agama Islam degan pendekatan face to face (bertatap muka) oleh kiai. Berselang beberapa tahun kemudian berubah menjadi pengajian rutin mengenai Al-Quran dan beberapa kitab yang meliputi fiqih, tauhid, akhlak, nahwu, shorf, tafsir dengan menggunakan kitab kuning.

Keadaan pendidikan pondok pesantren As-Salafiyyah Darurrohmah kian hari semakin Nampak adanya perkembangan, yang dikembangkan oleh K. H. Anwar dan Kiai Somad (menantunya), sehingga pada tahun 1928 keberadaan pondok pesantren Salafiyyah Darurrohmah semakin menjadi ramai dan jumlah santrinyapun bertambah dengan jumlah sekitar 200 santri.

Lama kelamaan aktivitas tersebut diketahui oleh Penjajah Belanda, maka pada tahun 1947, rumah yang berukuran besar sebagai tempat pemondokan para eantri dibakar, karena dianggap sebagai markas Hizbillah.
Dengan dibakarnya rumah tersebut, maka pondok pesantren Salafiyyah Darurrohmah mengalami masa fatroh (kemandegan), pada waktu itu bangsa Indonesia sedang mempertahankan kemerdekaannya. Kemacetan pondok pesantren Salafiyyah Darurrohmah selama kurang lebih 2 tahun bukan berarti tidak ada tempat untuk menampung santri, melainkan penjajah Belanda melarang pondok pesantren Salafiyyah Darurrohmah melakukan segala kegiatannya.

Akan tetapi pada tahun 1949 K. H. Abdurrosyid dan K. H. Abdurrohim (keduanya putra K. H. Anwar) membuka kembali pondok pesantren tersebut dengan pembagian untuk santri putra diasuh oleh K. H. Abdurrosyid dengan nama pondok pesantren Al-Anwar dan untuk santri putri diasuh oleh K. H. Abdurrohim dengan nama pondok pesantren As-Sa’diyah.

Santri yang menetap di pondok ini semenjak tahun 1949 sampai 1953 tidak diperbolehkan bersekolah. Akan tetapi pada tahun 1953 akhir, santri mulai diperbolehkan bersekolah di luar pondok, bahkan pada tahun 1953 sistem madrasah mulai diterapkan di pondok pesantren ini.

Saat ini pesantren Salafiyyah Darurrohmah dipimpin oleh Kiai Fathurrohim, S. Pd. I. Untuk melihat siapa saja pengajar, guru, ustadz, pengasuh yang membimbing para santri silahkan klik di sini.

3. Sarana dan Fasilitas

Unsur yang paling penting bagi suatu lembaga pendidikan adalah sarana dan fasilitas yang juga akan menjadi tolak ukur kemajuan lembaga tersebut. Semakin lengkap sarana dan fasilitas bagi suatu lembaga, maka semakin mungkin untuk meningkatkan kualitas pendidikannya, begitu juga sebaliknya, semakin kurang sarana dan fasilitas sebuah lembaga, maka akan semakin kurang kualitas pendidikannya.

Keadaan sarana fisik yang dimiliki oleh pondok pesantren Salafiyyah Darurrohmah cukup memadai yang terdiri dari sebuah bangunan masjid, dua bangunan pondok, aula majlis ta’lim, ruang kantor, perpustakaan, wc, lapangan sepak bola, dua meja tenis meja, persawahan, serta telah memiliki satu bangunan madrasah dan kantin (koperasi pondok pesantren).   

Sedangkan kondisi sarana non fisik yang dimiliki pondok pesantren Salafiyyah Darurrohmah, yaitu beberapa program pengajaran (kurikulum), tenaga pengajar, pengelola administrasi, buku-buku paket (kitab-kitab salaf), tiga komputer, dan dua notebook untuk menunjang keterampilan menulis santri.

4. Letak Geografis

Pondok pesantren Salafiyyah Darurrohmah terletak di desa Pasawahan no. 32 kec. Susukanlebak kab. Cirebon, yaitu kurang lebih 3 Km dari ibu kota kecamatan Susukanlebak.

Adapun batas-batas desa Pasawahan meliputi :
- Sebelah utara berbatasan dengan desa Cipeujuh
- Sebelah timur berbatasan dengan desa Asem
- Sebelah selatan berbatasan dengan desa Sampih
- Sebelah barat berbatasan dengan desa Ciawiasih.

5. Kurikulum

Usaha penguasaan pengajian kitab-kitab klasik keagamaan dilakukan dengan menggunakan metode sorogan, yang merupakan metode santri aktif. Dengan metode sorogan itu, santri membaca kitab dengan landasan kemampuannya dan menurut tata bahasa (nahwu dan shorof) sehingga setiap kalimat yang dibaca dapat dipahami kedudukannya menurut ilmu nahwu dan shorof. Metode sorogan tersebut dapat mempercepat santri dalam menamatkan pengajian matan sebuah kitab, sehinga para santri dalam suatu waktu pengajian dapat membaca kitabnya sesuai dengan kemampuannya sedangkan kiai atau ustadz hanya memberikan petunjuk-petunjuk pemantapannya.

Untuk memperdalam penguasaan materi kitab, para santri mengikuti pengajian tingkat kedua yang membahas syarahnya. Pada pengajian ini dilakukan metode bandongan, dengan syarat para santri telah mengikuti pengajian matan sebelumnya dan kiai membacakan kitab syarahnya relative lebih cepat.

Adapun pengajian kitab tingkat ketiga, yaitu diarahkan kepada pendalaman ilmu-ilmu bahasa arab, fiqih, tafsir, tauhid dan akhlak yang sudah diterima pada tingkat kedua. Pada tingkat ketiga ini, para santri diarahkan kepada pengkajian kitab-kitab yang lebih tinggi, mendalam pembahasannya, baik dilihat dari jumlah halaman maupun teknik penyajiannya.

Selain sistem belajar tersebut, ada pula sistem bahtsul masail, diskusi, seminar dan pelatihan. Para santri juga diajarkan keterampilan tilawatil Quran (Qiro), berpidato (public speaking), menulis, memasak, bercocok tanam, budidaya ikan, menjahit, furniture (mebel), bisnis (wirausaha), dan lainnya. Hal ini bertujuan agar selepas santri keluar dari pesantren memiliki keterampilan (skill) yang dapat menunjang kualitas hidup dalam kehidupan bermasyarakat.

Post a Comment

0 Comments