Rais Syuriah PBNU Minta Pemerintah Ubah Cara Atasi Teror Bom

Rais Syuriah PBNU Minta Pemerintah Ubah Cara Atasi Teror Bom

SUMBER, (PRLM).- Rais Syuriah PBNU, KH. Adib Rofiuddin Izza meminta agar penanganan teror bom segera diubah, karena selama ini penanggulangan yang lebih didominasi polisi dengan cara mengejar dan menangkap ternyata tidak bisa menghentikan aksi teror. "Terbukti selama ini aksi teror bom terus saja terjadi hingga saya pikir pemerintah perlu mengubah cara penanganan," kata Kiai Adib, menanggapi aksi bom bunuh diri, Selasa (19/4) malam.

Kiai Adib berpendapat para pelaku pengeboman dan jaringannya harus ditangani secara khusus tidak seperti tersangka tindak kriminal biasa yang menjalani hukuman dengan dipenjara. Namun, para pelaku bom dan jaringannya kehidupan sehari-harinya sama seperti masyarakat biasa. Yang membedakannya adalah, cara pikir dalam menyikapi jihad Islam.

Menurut dia, sangat relefan apabila penanganan teroris bukan hanya menangkap, melanikan juga harus dengan pendekatan dan diskusi guna mengembalikan alur pemikiran sesuai ajaran Islam yang benar. Karena, yang salah itu cara memahami jihad.

Diakuinya, PBNU siap apabila pemerintah meminta bantuan untuk memberikan konseling kepada para pelaku teror bom. NU memiliki ulama yang mampu memberikan masukan kepada pelaku bom dan jaringannya agar mereka menyadari kekeliruannya. Dikatakan, jaringan pelaku bom mempelajari Islam tidak secara utuh. Begitu pula dalam hal mempelajari arti jihad yang sesungguhnya. Jihad dan berperang ada dalam ajaran Islam. Namun, jihad yang jauh lebih besar adalah memerangi hawa nafsu sebagaimana sabda Rosulullah SAW.

Mempelajari konsep jihad yang tidak utuh, lanjut dia, dapat melahirkan pemikiran yang salah. Hal ini berakibat kepada tindakan yang salah pula sehingga berakibat fatal. Termasuk kasus bom bunuh diri di dalam Masjdi Komplek Mapolres Cirebon Kota. "Karena dalam perang sekalipun, tempat ibadah tidak boleh dirusak, apalagi sesama muslim haram untuk dibunuh," katanya.

Dia menyarankan kepada polisi agar dalam menangkap pelaku teror tidak dengan cara kasar karena akan menimbulkan kesan yang tidak baik. Bisa menimbulkan dendam dan permusuhan yang tidak pernah berakhir.

Sementara itu, guru besar sosoilogi dan antropologi IAIN Syekh Nur Jati, Prof. Dr. Abdullah Ali, berpendapat, polisi harus tetap menangkap jaringan pelaku pengeboman yang terbukti memberikan bantuan. Namun, setelah berhasil menangkap, mereka harus disadarkan. Abdullah Ali mencontohkan, semangat yang ditunjukan Muhamamd Syaifudin terhadap upaya memberantas kemungkaran seperti perjudian, aliran sesat dan lainnya. Hanya saja menerjamahkan arti menghilangkan kemungkaran dengan tangan kebablasan karena tidak diimbangi dengan keilmuan yang memadai.

Menurut dia, ada banyak hal yang harus dimengerti dan dipelajari tentang jihad. Semangat Syarif tersebut kita hargi saat berupaya menegakkan kebenaran dengan tangannya. Akan tetapi harusnya dipelajari dan dilaksanakan pula ilmu secara utuh sehingga tidak salah langkah. (A-146/C-17/das)***

Sumber : www.pikiran-rakyat.com

Post a Comment

1 Comments

  1. nice infonya my friend,visit me too..
    http://dollardarineobuxcomtanpareferal.blogspot.com
    http://dollardarineobuxcomtanpareferal.blogspot.com

    ReplyDelete