Pesantren Adalah Panggilan Jiwa

Selama 5 tahun lebih kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saya cukup lupa mengapa awal kuliah di UIN Jakarta dan memilih jurusan Tafsir Hadis. Pengalaman dalam dan luar negeri yang cukup berlimpah, memberikan banyak pilihan masa depan. Tidak melulu menjadi ulama, kyai, atau ahli agama.

Entah mimpi atau terjaga. Saat kebimbangan meneruskan mengembangkan usaha di Jakarta atau mengurus pesantren. Almarhum kakek KH. Abdurrahim mengenakan jubah putih dan sorban hijau tersenyum mendatangi, "Faisal, urus pesantren." Ini terjadi 2x sama persis.

Mungkin ini tanda yang Allah berikan setelah kebimbangan menimpa berbulan-bulan, dan saat menjalani usaha terlihat berkilau ,namun kenyataannya hampir selalu merugi. Dan itu terjadi setelah shalat istikhoroh meminta jalan terbaik untuk masa depan dan masalah finansial yang sedang dihadapi.

Akhirnya hati saya mengatakan, "Wahai diri sami'na wa ato'na." Saya dengan dan taat perintah Kakek. Sebelum meninggal beliau juga berpesan agar cucu-cucu raih pendidikan sampai S3. Dan saya merasa itu adalah kewajiban wasiat yang harus dipenuhi.

Jum'at kemarin saya berziarah dan berdoa kepada Allah, serta membaca surat Ya Siin, semoga kami digolongkan anak-anak yang shaleh yang doanya sampai untuk orangtua, yakni kakek kami.
 
Makam KH. Abdurrahim, Sesepuh Sadpas Pesantren Pasawahan Cirebon
*Tulisan oleh Ust. Faisal Hilmi

Post a Comment

0 Comments